Perbedaan antara Perbuatan Malaikat dan Perbuatan Syaithan


Pertama: Para malaikat mensucikan pujian kepada Rabb mereka dan memohon ampunan bagi manusia yang berada di bumi. Mereka adalah mahluk yang paling ikhlas terhadap Bani Adam, sedangkan syaithan adalah mahluk yang paling berbahaya bagi Bani Adam. Hal ini karena syaithan telah bersumpah untuk menyesatkan, menyimpangkan dan menghancurkan Bani Adam sekuat kemampuannya. Allah berfirman:

إُٖٔا جَعَوِ اَِ اهظَٖٚاطٔينَ أَ هَِٗٔٚا ١ هوٖذٔٙ لاَ ٙؤًَُِِْٔ٘
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman..” (QS Al-A’raaf *7+ : 27)

Kedua: Malaikat memerintahkan para hamba kepada kebaikan, sedangkan syaithan mengajak dan memerintahkan mereka kepada keburukan.

ٙعِعُ عَ ذٔكِزٔ اهزٖحِ قَِٚضِ ه طَِٚطَااُّ فَ ه قَزّْٔٙ
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya..” (QS Az-Zukhruf [43] : 36)
Orang yang berpaling dari Al-Qur’an, Allah menghukumnya dengan menjadikan syiathan baginya untuk menolongnya sebagai pendampingnya (Qarin). Allah berfirman:

إَُٖٗٔ هَٚؼُدّٗ عَ اهشٖبٔٚىٔ ََٙٗحِشَبُ أَُٖ تًَِٗٔدُّ حَتٖٟ إٔذَا جَا ١َُا
قَايَ ٙا هِٚتَ بَِٚ ِٛٔ بََِٗٚ مََِ بُعِدَّ اه ظٌَِِزٔقَِٚ فَبٔ ٣ِصَ اِهقَزُّٔٙ
“Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada kami (di hari kiamat) dia berkata: "Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)".” (QS Az-Zukhruf [43] : 36)

Sehingga tidak ada yang melindungi manusia dari syaithan kecuali dengan dzikir kepada Allah.
Ketiga: Dzikir kepada Allah menjauhkan syaithan dari manusia dan menjadikan malaikat dekat kepadanya.
Inilah sebabnya syaithan disebut al-Waswasul Khonnas. Ketika seseorang meninggalkan dzikir kepada Allah syaithan datang kepadanya, namun ketika dia berdikir kepada Allah, para malaikat mengelilinginya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:
اًَ اجِتَ عٌََ قَ فٔٛ بَِٚتٕ بُُٚ ت٘ٔ اهوٖ تَعَاَهٟ َٙتِوُ كٔتَابَ اهوٖ ََٙٗتَدَّارَسُ بَِٚ إٖٔها زَََُهتِ عَوَِٚ اهشٖلٔٚ َُِٞ غََٗظَٔٚتِ اهزٖحِ ٌَُٞ حََٗفٖتِ اه وٌََِأ٢لَُٞ ذََٗكَزَ اهوٖ فٔٚ عٔ دَِِّ “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah dengan membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebutkan mereka kepada (para malaikat) yang berada di sisi-Nya.”

Tempat-tempat yang Sering Didatangi Malaikat dan Syaithan



Tempat-tempat yang Sering Didatangi Malaikat Ada malaikat yang berkeliling di penjuru bumi mencari majelis-majelis dzikir, dan jika mereka menemukan majelis dzikir mereka berkata: “Bersegeralah kepada hajatmu.” Ada beberapa cara berdzikir kepada Allah  di antaranya adalah:


1. Bacaan Al-Qur’an. Orang yang membaca Al-Qur’an berdzikir kepada Allah.
2. Orang yang shalat berdzikir kepada Allah.
3. Orang yang bertasbih, beristighfar, bertakbir dan bertahlil berdzikir kepada Allah. Para malaikat berkumpul di dekatnya dan syaithan menjauh daripadanya.
4. Orang-orang yang mempelajari buku-buku ilmu dan duduk di dalam halaqah untuk mempelajari agamanya – mereka berdzikir kepada Allah, dan para malaikat berkumpul di dekat mereka.

Tempat-tempat yang Sering Didatangi Syaithan
1. Orang-orang yang menyibukkann diri mereka dengan segala bentuk kesenangan yang sia-sia seperti nyanyian dan alat musik – orang-orang ini dikelilingi oleh syaithan yang berkumpul di dekat mereka sedangkan para malaikat menjauh dari mereka.
2. Orang yang menempatkan gambar-gambar di rumahnya – para malaikat tidak masuk ke dalam rumahnya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, di mana Nabi  bersabda:

إُٖٔا المَلأَ٢لََٞ لاَ دَُِّخُىُ بَِٚتّا فٔٚ كَوِبْ هََٗا ػُ رَْ٘ٝ
“Sesungguhnya malaikat tidak memasuki rumah yang terdapat anjing dan gambar di dalamnya.”5
Malaikat rahmat tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar, apakah itu digantung di dinding ataukan disimpan dalam bingkai atau kotak-kotak sebagai kenang-kenangan atau memperindah rumah.

Gambar yang dimaksud di sini adalah gambar-gambar dari mahluk yang bernyawa. Ini menjauhkan malaikat. Oleh karenanya para malaikat tidak memasuki rumah-rumah di mana terdapat yang semisal gambar-gambar ini. Namun demikian, gambar-gambar yang diperbolehkan karenanya adanya keperluan seperti untuk kartu identitas, paspor dan kartu identitas pribadi, hal ini diperbolehkan karena kebutuhannya. Gambar-gambar ini tidak diambil untuk dikagumi. Maka jenis gambar-gambar ini adalah pengecualian dari larangan tersebut. Demikian juga gambar-gambar yang diinjak-injak atau diduduki. Yang kita bicarakan di sini hanyalah gambar yang tergantung sebagai kenangan atau disimpan untuk diperlihatkan. Ini adalah jenis gambar-gambar yang dilarang, karena tidak ada kebutuhan pengambilannya. Jenis gambar-gambar seperti ini menyebabkan syaithan masuk ke dalam rumah manakala malaikat tertahan dari memasuki rumah.

Pengaruh Iman kepada Malaikat terhadap Kehidupan Manusia Iman kepada malaikat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan manusia, karena manakala seseorang menyadarinya, tentunya dia akan berhati-hati dan waspada. Apabila seseorang menyadari bahwa ada malaikat yang ditugaskan kepadanya, yang terus-menerus mendampinginya siang dan malam, dia pasti akan berhati-hati terhadap apa yang dia katakan atau yang dia lakukan, agar tidak ada yang tercatat mengenainya dari sesuatu yang tidak bermanfaat. Jika dia mengetahui ada pengawas yang mengikutinya, bukankah dia akan berhati-hati karena takut mereka akan mengambil perkataan atau perbuatannya yang akan menyebabkan akhir yang buruk baginya?

Bagaimana dia tidak berhati-hati dan waspada terhadap malaikat ketika dia tidak melihatnya? Akan tetapi sebagai manausia, engkau melihat mereka. Sehingga orang yang melihat anda dan anda dapat melihatnya anda waspada terhadapnya. Namun para malaikat melihatmu dan engkau tidak dapat melihat mereka. Mungkin saja engkau dapat melindungi dirimu dari manusia – engkau dapat masuk ke dalam rumahmu

atau mengucilkan dirimu di tempat yang tersembunyi dan mereka tidak bisa mendapatkan informasi apapun tentangmu. Namun bagi para malaikat, mereka masuk bersamamu dimanapun. Allah  memberikan mereka kemampuan untuk menjangkau dan memasuki tempat apapun yang Dia perintahkan. Inilah sebabnya Allah memperingatkan kita dengan berfirman:

إَٗٔ عَوَِٚلُ هحَافٔظٔينَ كٔزَا اًّ كَأتبٔينَ َٙعِوَ اًَ تَفِعَوَُْ٘
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Infithaar [82] : 10-12)
Allah  mengatakannya untuk memperingatkan kita. Dan inilah buah dari iman kepada malaikat, bahwa manusia melindungi dirinya dari perkataan dan perbuatan keji yang akan ditulis atasnya dan yang akan dipertanggungjawabkannya di hari kiamat.

Tidak Ada yang Tersebunyi dari Allah
Allah berfirman:
إٔ كُىٗ فِصٕ ه اٌٖٖ عَ ِٙ ىَأَ حَافٔظْ
“Tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya..” (QS Ath-Thariq [86] : 4)
Dan Allah berfirman:

حََُِٗ أَقِزَبُ إَٔهِٚ حَبِىٔ اِه رَ٘ٔٙدّٔ
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,” (QS Qaaf *50+ : 16)
Tahukah anda yang dimaksud dengan (urat leher) di sini? Ia adalah urat nadi manusia yang terdapat di sisi leher tempat mengalirnya darah – satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri, di kedua sisi lehernya. Di kedua urat nadi ini mengalir darah yang mensuplai seluruh tubuh.
Allah berfirman:

حََُِٗ أَقِزَبُ إَٔهِٚ حَبِىٔ اِه رَ٘ٔٙدّٔ
“dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,” (QS Qaaf *50+ : 16)

Demikian juga, Allah berfirman:

اِهأَ يُٖٗ اَِٗهآخٔزُ اَٗهظٖا زُٓٔ اَِٗهبَاطٔ بلُىِ طَِٛ ١ٕ عَؤٍْٚ
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Hadiid [57] : 3)

Nabi  menjelaskan ayat ini:
أَُِتَ اِهأَ يُٖٗ فَوَِٚصَ قَبِوَمَ طَِٛ ١ْ أََُِٗتَ اِهآخٔزُ فَوَِٚصَ بَعِدَّنَ طَِٛ ١ْ أََُِٗتَ
اهظٖا زُٓٔ فَوَِٚصَ فَ قَِ٘مَ طَِٛ ١ْ أََُِٗتَ اِهبَاطٔ فَوَِٚصَ دُ مََُٗ طَِٛ ١ْ
“Engkau yang permulaan dan tidak ada sesuatu yang sebelum-Mu. Engkau lah yang paling akhir dan tidak ada sesuatu setelah-Mu Engkau lah Yang Maha Tinggi dan tidak ada yang melampaui-Mu. Dan Engkau Maha Dekat dan tidak ada sesuatu di bawah-Mu.”Karenanya tidak ada yang tersembunyi dari Allah , baik di darat maupun di laut, di bagian terdalam dari rumah seseorang, di tengah gurun atau di pasar, di masjid, di teater, dan di tempat-tempat hiburan, di semua tempat di mana Allah ditaati di tempat di mana Allah diingkari, tidak satu pun tersembunyi dari Allah dan tidak ada sesuatu pun yang terhalang dari-Nya. Itulah sebabnya ketika Jibril bertanya kepada Nabi  tentang ihsan, beliau menjawab: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”
Jadi seseorang harus menyadari dan mengetahui bahwa ada malaiakt bersamanya dan bahwa Allah
berfirman:

حََُِٗ أَقِزَبُ إَٔهِٚ حَبِىٔ اِه رَ٘ٔٙدّٔ إٔذِ ٙتَوَقٖٟ اه تٌَُِوَقَِٚا عَ اِهَٚ ئٌنٔ عََٗ اهظِ اٌَئ قَعٔٚدّْ اًَ ٙوِفٔظُ قَ يِٕ٘ إٖٔها هدََّٙ رَقٔٚبْ عَتٔٚدّْ
“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaaf *5+ : 16-18)

Dan Allah berfirman:
أَوِ حِطَبُ أىََا لا ىطِنَعُ ضِسَ هٍُِ ىََّجِ اَْ هٍُ بلََٙ زَُّضُُلَيا لدََِٓ هَِٔ
لَِٓتُبٌَُْ

“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS Az-Zukhruf [43] : 80)
Yang dimaksud dengan adalah para malaikat. Allah mendengarkan rahasia dan bisikan-bisikan, dan para malaikat mencatatnya. Ini termasuk di antara pengaruh iman kepada malaikat.
Menyebutkan Malaikat dengan tujuan untuk Mencintai Mereka Menyebutkan para malaikat bukan hanya untuk mengetahui sesuatu sebagaimana seseorang membaca sejarah dan lain-lainnya. Akan tetapi kita hanya menyebutkan para malaikat agar kita bersiap-siap dan mewaspadai mereka menulis sesuatu dari kita, yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Kita menyebutkan mereka agar kita mencintai mereka, karena Allah Ta’ala mencintai mereka. Kita mencintai mereka karena mereka adalah mahluk yang paling taat kepada Allah.

 Allah berfirman:
. كٔزَإ بَزَرَٕٝ
“...yang mulia lagi berbakti..” (QS Abasa *80+ : 16)

Yang terpenting adalah kita mengakui ketinggian dan kedudukan para malaikat dan bahwa kita mencintai mereka karena Allah mencintai mereka. Adapun orang-orang yang menyimpan permusuhan terhadap para malaikat dan membenci mereka, maka sungguh Allah adalah musuh baginya. Dan barangsiapa yang Allah jadikan sebagai musuh, dia tidak akan dapat bertahan dan dia tidak akan berada dalam keadaan yang baik.

Allah berfirman:
كَا عَدُّ اّٗٓ هوٓ لًََٗآٔ٢لَتٔ رَُٗسُؤ جَٗٔبِزٔٙىَ ًَٚٗٔلَايَ فَإٔ اهوٓ عَدُّ هِوِلَافٔزَّٔٙ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir..” (QS Al-Baqarah [2] : 98)
Barangsiapa yang mengambil malaikat sebagai musuhnya, maka Allah menjadi musuh baginya.
Saya memohon kepada Allah. agar memberikan saya dan anda keimanan yang benar, ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad keluarganya dan para sahabatnya.

Pengertian Iman Kepada Malaikat - Sifat Malaikat dan Tugasnya


Pengertian Iman Kepada Malaikat Topik yang menjadi perhatian kita sekarang adalah iman kepada malaikat, yang merupakan salah satu dari rukun iman. Yang dimaksud dengan iman kepada malaikat adalah membenarkan keberadaan mereka, dan mem-benarkan tugas-tugas yang mereka laksanakan di alam ini.

Malaikat adalah salah satu mahluk Allah, yang Dia ciptakan untuk beribadah kepada-Nya, dan mengemban tugas-tugas yang diperintahkan-Nya di alam ini. Allah mengutus para malaikatnya untuk melaksanakan perintah-Nya. Mereka adalah makhluk ghaib. Kita tidak melihat mereka, namun kita beriman dengan keimanan yang teguh yang tidak dapat dipengaruhi oleh keraguan. Yang demikian karena Allah  telah mengabarkan kepada kita mengenai mereka, dan demikian juga Rasul-Nya  telah mengabarkan kepada kita mengenai mereka, dengan keyakinan yang menyebabkan kita beriman kepada mereka.

Dari Apa Malaikat Diciptakan?

Malaikat diciptakan dari cahaya, sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Allah menciptakan malaikat dari cahaya dan Dia menciptakan jin dari api dan Dia menciptakan manusia dari tanah. Jadi para malaikat diciptakan dari cahaya.

Sifat-Sifat Malaikat:

Malaikat adalah salah satu dari ciptaan Allah dari alam ghaib. Tidak seorang pun yang tahu berapa banyak jumlah mereka, rupa dan keadaan mereka, kecuali Allah.
Diantara Sifat-Sifat Malaikat:
Pertama: Mereka adala tentara-tentara Allah yang paling agung. Allah berfirman:

لَّلُِٖٔ جُيُ دُْ الطَنَا اَّتِ اَِّلأَزِضٔ كََّا الل عَل نِٔاّ حَلِنٔاّ
“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,.” (QS Al-Fath [48] : 4)
Dan ketika berbicara mengenai penjaga Neraka, Allah berfirman:


Sifat yang pertama: Kekuatan: Allah berfirman: “mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy” (At-Takqwir : 20). adalah pemilik Arsy, yakni Allah . di sini adalah sifat Jibril.

Sifat kedua: Kedudukan: Allah berfirman: “mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy” (At-Takqwir : 21). Ini berarti bahwa dia memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah yang tidak dapat dicapai malaikat lainnya.

Sifat ketiga: Ketaatan: Semua malaikat taat kepada Jibril dengan perintah Allah.

Sifat keempat: Terpercaya: Ini berkenaan dengan wahyu, di mana dia tidak membuat tambahan atau pengurangan atasnya, sebaliknya dia menyampaikannya tepat seperti yang Allah wahyukan kepadanya.

عَوَِٚ أَ تشِعََٞ عَظَزَ
“Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).” (QS Al-Mudatsir [74] : 30)
Dan Allah  berfirman:

مََّا جَعَِل اًَ أصَِحَابَ اليَازٔ إلٔاٖ مَلا ئٓلَِ مََّا جَعَِلَيا عِدََت هَُِ إلٔاٖ فِتِيَ للِرِٖ كَفَسُ اّ
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir...” (QS Al-Mudatsir [74] : 31)

Ini berarti bahwa ada 19 malaikat penjaga Neraka – mereka memeliharanya, menjaganya, menyalakannya dan ditugasi mengurusi perkaranya.
Ketika salah satu dari orang kafir mendengarkan jumlah malaikat yang menjaga Neraka, dia berkata, seolah untuk mengolok-olok jumlah mereka, “Aku akan mencukupi kalian dari mereka,” – maksudnya jika dia masuk ke dalam Neraka, dia akan melawan mereka, menguasai mereka dan keluar dari Neraka. Dia mengatakan ini untuk mengolok-olok dan menghina, maka Allah membantah mereka dengan firman-Nya:

اًََٗ جَعَوِ اَِ أَػِحَابَ اه اِٖرٔ إٖٔها وًََأ٢لَّٞ
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat.” (QS al-Mudatsri [74] : 31)
Ini berarti bahwa mereka (para penjaga neraka) tidak berasal dari manusia.
Sehingga apabila orang tersebut mengatakan bahwa dia kuat dan dapat melawan sejumlah manusia, dia tidak akan dapat melawan para malaikat meskipun satu malaikat saja. Allah berfriman: “Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat.” Artinya, kami tidak menjadikannya dari manusia atau jin.

اًََٗ جَعَوِ اَِ أَػِحَابَ اه اِٖرٔ إٖٔها وًََأ٢لَّٞ اًََٗ جَعَوِ اَِ عٔدّٖتَ إٖٔها فٔتِ َِّٞ هوٖذٔٙ كَفَزُ اٗ هَٚشِتَِٚقٔ اهذٖٔٙ أُ تُٗ ا٘ اِهلٔتَابَ َٙٗزَِدَادَ اهذٖٔٙ آ اًَُِ٘ إٔيمَااُّ هََٗا ٙزَِتَابَ
اهذٖٔٙ أُ تُٗ ا٘ اِهلٔتَابَ اَٗه ؤٌُِِ هََٗٔٚقُ يَ٘ اهذٖٔٙ فٔٛ قُوُ ب٘ٔ زًَٖضْ
اَِٗهلَافٔزُ اًَذَا أَرَادَ اهوٖ ب ذََٔا جًََلاّ
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman

bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mu'min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” (QS Al-Mudatsir [74] : 31)
Mereka berdusta dan berusaha meremehkan jumlah ini. Bagaimana mungkin Neraka yang demikian besar ini, yang mencakup semua mahluk ini, hanya dijaga oleh sembilan belas malaikat? Allah berfirman:

اًََٗ جَعَوِ اَِ عٔدّٖتَ إٖٔها فٔتِ َِّٞ هوٖذٔٙ كَفَزُ اٗ
“Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir...” (QS Al-Mudatsir [74] : 31)
Tidak seorang pun mengetahui keagungan malaikat dan tidak ada yang mengetahui apa yang Allah miliki dari para tentara di langit dan di bumi kecuali hanya Allah saja. Baik orang-orang kafir atau pun lainnya tidak ada yang mengetahuinya.
Kedua: para malaikat ini memiliki kedaan fisik yang sangat besar. Allah telah menyebutkan yang demikian dalam firman-Nya:

اِهحَ دٌُِّ هوٖ فَاطٔزٔ اهشٖ اٌَ اَٗتٔ اَِٗهأَرِضٔ جَاعٔىٔ اه وٌََِأ٢لَٞٔ رُسُلاّ أُ هٗٔٛ
أَجِ حَِٕٔٞ جًِٖ َِٟ ثَُٗوَاثَ رَُٗبَاعَ
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.” (QS Fathir [35] : 1).

Ini berarti bahwa ada sebagian malaikat yang memiliki dua sayap, sebagian memiliki tiga sayap dan sebagian lagi empat sayap. Dan juga ada sebagian malaikat yang memiliki sayap lebih dari itu, karena Nabi  melihat Malaikat Jibril dan dia memiliki 600 sayap – setiap sayap memenuhi ufuk. Ini hanya salah satu dari malaikat yang ada. Allah mensifati malaikat Jibril dengan kekuatan yang sangat besar, sebagaimana Allah berfirman:

عَوٖ طَدّٔٙدُّ اِهقُ ٠َ٘
“…yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat..” (QS An-Najm [53] : 5) Yang dimaksud adalah malaikat Jibril.

ذُ زًٖٕٔٝ فَاسِتَ ٠َ٘
“…yang mempunyai akal yang cerdas; dan (jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.” (QS An-Najm [53] : 6) Ini berarti bahwa Jibril memiliki kekuatan dan rupa yang baik.

Ini adalah salah satu contoh besarnya kekuatan malaikat.


Ada juga Malaikat Israfil , malaikat yang diberi tugas meniup Sangkakala. Yang dimaksud dengan Sangkakala adalah terompet yang akan mengumpulkan ruh Bani Adam (yakni manusia) dari yang pertama sampai yang terakhir. Kemudian Israfil akan meniup Sangkakala satu kali, dan ruh-ruh akan melayang karena tiupan Sangkakala, kembali ke tubuhnya. Ini disebut Tiupan Kebangkitan (Nakhatul Ba’ats). Sebelum itu dia akan meniup Tiupan Kiamat (Nakhatus Sa’ah), sehingga tiap-tiap yang ada di langit dan di bumi akan mati, kecuali siapa yang Allah kehendaki. Allah berfirman:
فَُُٗٔخَ فٔٛ اهؼٗ ر٘ٔ فَؼَعٔقَ فٔٛ اهشٖ اٌَ اَٗتٔ فٔٛ اِهأَرِضٔ إٖٔها طَا ١ اهوُٖٕ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.” (QS Az-Zumar [39] : 68)
artinya kematian. Kemudian dia akan meniup kembali Sangkakala, yang dikenal dengan nama Tiuapan Kebangkitan:
ثُ فٔخَ فٔٚ أُخِزَ ٠ فَإٔذَا قَٔٚا ٙ ظُِزَُْٗ
“Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS Az-Zumar [39] : 68)
Ini hanya salah satu dari para malaikat Allah, dan ini hanya salah satu dari tugas yang Allah perintahkan kepadanya. Dengan demikian, malaikat adalah salah satu ciptaan Allah yang agung. Dia mencipatakan para malaikat agar mereka beribadah kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya. Allah berfirman:

بَىِ عٔبَادْ لًِٗزًََُْ٘ هَا ٙصَِٔبقُ بأِهقَ يِ٘ٔ بأَ زًِٔ ٙعِ وٌََُْ٘ َٙعِوَ اًَ بَِٚ أَٙدِّٔٙ اًََٗ خَوِفَ هََٗا ٙظِفَعُ إٖٔها ه ارِتَضَٟ خَظَِٚتٔ ظًُِفٔقَُْ٘

“Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS Al-Anbiyaa [21] : 26-28).

Inilah gambaran mengenai malaikat.


Para malaikat memiliki tugas. Masing-masing dari mereka memiliki sebuah tugas yang dipercayakan kepadanya, dan dia tidak menunda dalam mengerjakannya. Bahkan dia melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah Allah dan dia tidak durhaka kepada Allah:
عَوَِٚ أَ وًََأ٢لَْٞ غٔوَاظْ طٔدَّادْ ها ٙعِؼُ اهوٖ إًَ أَ زًََ ََٙٗفِعَوُ اًَ ٙؤِ زًََُْٗ
“penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim [66] : 6)

Di antara tugas-tugas mereka:

Pertama: Malaikat yang menjaga Neraka. Mereka dikenal sebagai Penjaga Neraka, yaitu malaikat yang ditugasi menjaga neraka dan menyiksa penduduk neraka.
Kedua: Di antara mereka ada malaikat yang ditugaskan memikul Arsy Allah, sebagaimana firman-Nya:

اهذٖٔٙ ٙحِ ؤٌُ اِهعَزِغَ حَ هِ٘ ٙشَبِحُ بحَ دٌِّٔ رَبِ َُٙٗؤِ ب ََٙٗشِتَػِفٔزُ هوٖذٔٙ آ اًَُِ٘ رَبٖ اَِ سَٗٔعِتَ كُىٖ طَِٛ ١ٕ رٖحِ ٌَّٞ عَٗٔوِ اٌّ فَاغِفٔزِ
هٔوٖذٔٙ تَابُ ا٘
“(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat...” (QS Al-Mu’min *40+ : 7)
Dan Allah berfirman:

ََٙٗحِ ىٌُٔ عَزِغَ رَبِمَ فَ قَِ٘ ٙ ٣ًَِ٘ٔذٕ ثَ أٌََُْٚٞ
“Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS Al-Haaqah [69] : 17)

Jumlah Malaikat yang memikul Arsy:
Para malaikat yang memikul Arsy ada empat, dan pada hari kiamat jumlahnya bertambah menjadi delapan. Arsy Allah adalah ciptaan Allah yang terbesar, yang akat dipikul oleh delapan malaikat pada hari kiamat. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sungguh sangat kuat, karena mereka memikul Arsy yang megah ini, yang merupakan ciptaan Allah yang paling besar dan paling megah. Ini mengisyaratkan kekuatan mereka dan kehebatan mereka.
Ketiga: Di antara mereka ada yang bertugas membawa wahyu. Allah berfirman:

ُٙ زَِِيُ اه لٌَِآٔ٢لََٞ بأهزِٗ حٗٔ أَ زًِٔ عَوَٟ ٙظَا ١ُ عٔبَادٔ أَ أَذُٔرُ اِٗ أَ لاَ إَٔه إٔلاٖ أََُاِ فَاتٖقُْ٘ٔ
“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku".” (QS An-Nahl [16] : 2)

Kata ‘ruh’ di sini bermakna wahyu. Disebut ruh karena ia adalah wahyu yang membawa kehidupan pada hati, seperti hujan membawa kehidupan pada bumi. Dengan pengertian yang sama, ia adalah ruh yang diciptakan yang membawa kehidupan pada tubuh hewan.
Ruh juga dapat bermakna Al-Qur’an, sebagaimana Allah berfirman:
كََٗذَٔهمَ أَ حَِِٗٚ اَِ إَٔهِٚمَ رُ حٗاّ أَ زًَُِٔا
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami.” (QS Asy-Syuura [42] : 52)

(Ruh) di sini bermakna Al-Qur’an, karena ia sesuatu yang membawa kehidupan ke dalam hati orang-orang yang beriman, sebagaimana bumi dihidupkan oleh hujan. Demikianlah hati orang-orang beriman dihidupkan dengan adanya Al-Qur’an.
Kata Ruh juga digunakan untuk Jibril , malaikat yang paling agung, paling utama dan paling mulia di antara semua malaikat. Dialah yang menurunkan Al-Qur’an dari sisi Allah kepada Muhammad (), sebagaimana Allah berfirman:

زََُيَ ب إهزٗ حُٗ اِهأَ ئًنُ عَوَٟ قَوِبٔمَ ه ك تَُ اه ذٌُِِٔرٔٙ بَّٔؤشَإ عَزَٔبٍٛ
بًٗٔينٕ

“dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS Asy-Syu’araa *6+ : 193-195)
Jibril membawa Al-Qur’an ke dalam hati Nabi , dan kemudian beliau  menyampaikan kepada ummatnya. Dalam ayat lain Allah berfirman:
قُىِ زَُٖه رُ حُٗ اِهقُدُّضٔ رٖبِمَ
“Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu.” (QS An-Nahl [16] : 102)
Yang dimaksud adalah Jibril – sang ruhul qudus.

Sifat-sifat Jibril:
Allah menggambarkan Jibril dengan sifat-sifat yang agung, sebagaimana Allah berfirman:

فَلاَ أقُِطِهُ باِلخُيَظٔ اِلجَ اَْزٔ اللُِيَظٔ اَّلٖل لِّٔٔ إذَا عَطِعَظَ اَّلضُبِحٔ إذَا
تَيَفٖظَ إىٔ لقََ لُِْ زَضُ لْٕ كَسٔهٕٓ ذِ قُ عِيدَ ذِ اِلعَسِشٔ مَلِينٕ مُطَإع
ثهََ أمِينٕ
“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing, sesungguhnya Al Qur'aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy, yang dita'ati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya..” (QS At-Takwir [81] : 15-21)

Sifat yang pertama: Kekuatan: Allah berfirman: “mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy” (At-Takqwir : 20). adalah pemilik Arsy, yakni Allah . di sini adalah sifat Jibril.

Sifat kedua: Kedudukan: Allah berfirman: “mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy” (At-Takqwir : 21). Ini berarti bahwa dia memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah yang tidak dapat dicapai malaikat lainnya.

Sifat ketiga: Ketaatan: Semua malaikat taat kepada Jibril dengan perintah Allah.

Sifat keempat: Terpercaya: Ini berkenaan dengan wahyu, di mana dia tidak membuat tambahan atau pengurangan atasnya, sebaliknya dia menyampaikannya tepat seperti yang Allah wahyukan kepadanya.
Muhammad  melihat Jibril:
Allah berfirman:

هََٗقَدِّ رَآ بأِهأُفُقٔ اه بٌُِٔينٔ
“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS At-Takwir [81] : 23)
Muhammad  melihat Jibril di ufuk dua kali.
Yang pertama: Ini terjadi di lembah Makkah. Nabi Muhammad  mengangkat kepalanya dan melihatnya di langit dan dia memiliki 600 sayap. Setiap sayapnya menutup ufuk.
Yang kedua: Allah berfirman:

هََٗقَدِّ رَآ زَُِهَّٞ أُخِزَ ٠ عٔ دَِّ سٔدِّرَٝٔ اه تٌَُِِِ َٟٔ
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.” (QS An-Najm [53] : `13-14)
Ini terjadi di malam hari ketika Nabi  naik ke langit dan melihat Jibril dalam wujud aslinya.
Inilah sifat-sifat Jibril. Allah berfirman:

إٔ هقَ يُِ٘ رَسُ يٕ٘ كَزٍٕٔٙ
“sesungguhnya Al Qur'aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),” (QS At-Takwir [81] : `19)

Ini berarti bahwa meskipun Al-Qur’an adalah Kalam Allah, akan tetapi di sini dinisbatkan kepada Jibril, karena dia lah yang menyampaikannya kepada Muhammad , dan ia adalah perkataan dari Allah , Jibril mendiktekannya kepada Rasul kita Muhammad  perkataan dari Allah, dan ia (Al-Qur’an) adalah kalam Allah . Kalam hanya dinisbatkan kepada yang pertama kali mengatakannya, bukan kepada yang menyampaikan kepada orang lain. Namun kalam Allah dinisbatkan kepada Jibril di sini dari sudut pandang bahwa dia lah yang menyampaikannya.

Ketiga: Para malaikat memiliki kekuatan yang ssangat besar, dengan izin Allah. Yang menunjukkan besarnya kekuatan mereka adalah jika Allah memerintahkan hanya satu dari mereka, maka sungguh malaikat tersebut dapat mengeluarkan teriakan keras di dunia, sehingga menghancurkan mahluk, sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud, yang dikepung oleh jeritan keras. Jibril melepaskan satu teriakan keras atas mereka:
إُٖٔا أَرِسَوِ اَِ عَوَِٚ ػَِٚحَّٞ اَٗحٔدَّّٝ فَلَاُُ ا٘ كَ ظَٔٔٚ اه حٌُِِتَظٔزٔ
“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.” (QS Al-Qamar [54] : 31)

Jantung mereka berhenti berfungsi dalam tubuh mereka dan sebagai akibatnya mati dan menjadi seperti ranting-ranting kering.

Termasuk kebiasaan bangsa Arab adalah apabila mereka ingin berdiam di suatu tempat, mereka akan mengumpulkan ranting-ranting kayu dan membuat kadang yang mengelilingi domba dan ternak mereka. Kandang ini pada akhirnya mengering dan menjadi rumput-rumput kering. Meskipun Tsamud memiliki kekuatan dan kehebatan, mereka menjadi seperti rumput-rumput kering sebagai akibat teriakan keras dari salah satu malaikat.

Allah juga memerintahkan Jibril untuk mengangkat negeri kaum Luth – dan terdapat tujuh kota yang berisi manusia, bangunan, barang-barang dan binatang. Dia membawanya di satu sisi sayap-sayapnya dan mengangkat kota-kota ini sehingga para malaikat mendengar gongongan anjing dan kokokan ayam jantan. Kemudia dia membalikkan kota-kota itu dan Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi.


Keempat: Ada para malaikat yang ditugaskan dengan tugas-tugas lain:

1. Mikail: Dia bertugas menurunkan hujan yang jatuh dari langit. Dia menggerakannya dan menyebabkan hujan turun dimanapun Allah perintahkan.

2. Israfil: Dia bertugas meniup Sangkakala. Ini akan terjadi ketika Allah berkehendak membangkitkan mahluk dari kubur-kubur mereka. Jasad-jasad akan dibangkitkan dari kuburan dari disusun kembali. Kemudian yang tersisa adalah ruh. Pada saat itu Israfil akan meniup Sangkakala dengan perintah Allah, dan ruh-ruh akan melayang kembali ke jasad-jasad mereka yang telah bangkit dari kubur. Mereka akan berjalan ke arah mana yang Allah perintahkan. Allah berfirman:

َٙ ٙدِزُجُ اِهأَجِدَّاثٔ سٔزَاعاّ كَأَُٖ إَٔهٟ ؼُبٕ ٙ ف٘ٔضَُْ٘
“yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia),” (QS Al-Ma’arij *70+ : 43)
Dan Allah berfirman:

خُظٖعاّ أَبِؼَارُ ٙدِزُجُ اِهأَجِدَّاثٔ كَأَُٖ جَزَادْ تًَِٗظٔزْ
طًِٗٔٔعٔينَ إَٔهٟ اهدّٖاعٔ ٙقُ يُ٘ اِهلَافٔزُ ذََٓا ٙ عَشٔزْ
“sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan, mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata: "Ini adalah hari yang berat." (QS Al-Qamar [54] : 7-8)
Inilah tiga malaikat yang bertanggung jawab atas kehidupan. Jibril bertugas menyampaikan wahyu, yang membawa kehidupan bagi hati. Mikail bertugas menurukan hujan yang membawa kehidupan ke muka bumi setelah matinya. Israfil bertugas meniup Sangkakala yang menghidupkan kembali jasad-jasad (pada hari kembangkitan). Itulah sebabnya mengapa

Nabi  ketika bangun untuk shalat di malam hari, setelah mengucapkan Takbiratul Ihram, beliau  membaca doa iftitah: “Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi.” Mereka itulah malaikat yang paling agung karena tugas-tugas mereka.
Kelima: Juga ada malaikat yang bertugas di rahim ibu. Ini diriwayatkan dalam hadits Ibnu Mas’ud z, di mana dia berkata, “Rasulullah  mengatakan kepada kami – dan beliau adalah orang yang dipercaya dan terpercaya:

إ أَحَدَكُهِ جِنَعُ خَلقُِ فِ بطِ أُمِ أَزَِبعِينَ مِّْا ثهَُ لَُٓ عَلقََ مِجِلَّ ذَِلمَ ثهَُ لَُٓ مُضِػَ مِجِلَّ ذَِلمَ ثهَُ بَِٓعَحُ الل مَللَّا فَ ؤُِٔمَسُ
بِأَزِبعَٔ كَلنَِاتٍ قََُّٓالُ ل اكِتُبِ عَنَل زَّٔشِقَ أََّجَل شََّقِ أ ضَعِ دْٔ
“Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah(air mani), kemudian menjadi alaqoh(segumpal darah) selama waktu itu juga (empat puluh hari), kemudian menjadi mudhghoh(segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya.” HR Bukhari Muslim.

Allah mengirim para malaikatnya untuk menjalankan tugas besar yang penting ini.

Keenam: Ada malaikat yang bertugas mencabut nyawa ketika ajalnya tiba. Ia adalah Malaikat Maut yang Allah berfirman tentangnya:

قُىِ ٙتَ فَٖ٘اكُ وًَٖمُ اه تٌَِِ٘ٔ اهذٖٜٔ كُِٗىَ بلُ ثُ إَٔهٟ رَبِلُ تُزِجَعَُْ٘
“Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS As-Sadjah [32] : 11)
Malaikat maut memiliki para pembantu yang akan membantunya, sebagaimana Allah berfirman:
“sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya.” (QS Al-An’am *6+ : 61-62).

Mencabut ruh dinisbatkan kepada para malaikat, Malaikat Maut, dan juga kepada Allah.

اهوٖ ٙتَ فَٖٟ٘ اِهأَفُُصَ حٔينَ تًَِ٘ٔ أَ اَٖٗهتٔٛ ه تَ تٌُِ فٔٛ اًََِ أًَٔ
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya...” (QS Az-Zumar [39] : 42).

Kematian dinisbatkan kepada Allah di sini karena Dia lah yang memerintahkan itu terjadi. Kematian juga dinisbatkan kepada para malaikat karena mereka lah yang hakikatnya mengambilnya dengan mengumpulkan ruh dan menggiringnya di dalam tubuh manusia hingga mencapai tenggorokan. Dan kematian juga dinisbatkan kepada Malaikat Maut – “Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu,” – karena dia lah yang bertugas mencabut nyawa setelah digiring pada saat terakhir (kematian).

Ketujuh: Terdapat juga malaikat yang bertugas mencatat amalan Bani Adam, sebagaimana yang terdapat di dalam hadits:
تََٓعَاقَبُ فِلُٔهِ مَلاَئلَِ بالٖل لِّٔٔ مََّلاَئلَِ باليَ اََزٔ
“Engkau senantiasa diawasi oleh para malaikat sepanjang malam dan siang hari.”HR Bukhari Muslim dari Abi Hurairah z.
Allah berfirman:

إَٗٔ عَوَِٚلُ هحَافٔظٔينَ كٔزَا اًّ كَأتبٔينَ َٙعِوَ اًَ تَفِعَوَُْ٘
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Infithaar [82] : 10-12)

Setiap Manusia Memiliki Dua Malaikat Bersamanya.

Setiap manusia di antara kita memiliki dua malaikat yang bertanggung jawab atasnya – malaikat di sisi kanannya mencatat amal-amal baiknya, dan satu malaikat di sisi kirinya mencatat amal-amal buruknya. Allah berfirman:

إٔذِ ٙتَوَقٖٟ اه تٌَُِوَقَِٚا عَ اِهَٚ ئٌنٔ عََٗ اهظِ اٌَئ قَعٔٚدّْ اًَ ٙوِفٔظُ قَ يِٕ٘ إٖٔها
هدََّٙ رَقٔٚبْ عَتٔٚدّْ
“yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaaf *50+ : 17-18).

Malaikat penjaga ini menyertai manusia baik dalam perjalanan atau duduk di rumah – mereka berada di sisinya sepanjang waktu dalam kondisi apapun – dalam shalatnya, ketika dia sujud, dan seterusnya – mereka menyertainya dan tidak meninggalkannya sendirian kecuali dalam keadaan khusus, seperti ketika seseorang membuang hajat. Kedua malaikat ini mencatat perkataan dan perbuatannya.
Para malaikat mencatat niat manusia.

Telah diriwayatkan bahwa para malaikat juga mencatat niat dan tujuan, yang terdapat di dalam hati. Apapun yang ingin dilakukannya, malaikat mencatatnya. Itulah sebabnya mengapa seseorang diberi pahala karena memiliki niat yang baik, karena ia adalah amalan hati, manakala ia dihukum karena niat buruk, karena niat adalah amalan hati.

Para malaikat ini diberi tugas mencatat amalan seseorang sejak dia mencapai usia baligh sampai saat ketika Allah mencabut nyawanya dengan kematian. Dan mereka mencatat segala sesuatu yang dilakukan semasa hidupnya – baik itu berupa niat, perbuatan, perkataan, atau yang selain dari itu.

Kedudukan Shalat Fajar dan Shalat Ashar di antara Shalat-shalat Lainnya
Nabi  bersabda:

َٙتَعَاقَبُ فٔٚلُ وًََأ٢لَْٞ بأهوِٖٚىٔ وًَََٗأ٢لَْٞ بٔاه أَِٖرٔ ََٙٗحِتَ عٌُٔ فٔٛ ػَوَاٝٔ
اِهعَؼِزٔ ػََٗوَاٝٔ اِهفَحِزٔ
“Engkau terus-menerus diawasi oleh malaikat di malam hari dan malaikat di siang hari dan mereka berkumpul pada shalat ashar dan shalat fajar.”3
Karena alasan ini lah kedua shalat ini lebih utama dibandingkan shalat-shalat lainnya. Allah berfirman:

أَقٔ اهؼٖلاََٝ هدُّٔه نُ٘ٔ اهظٖ صٌِٔ إَٔهٟ غَشَقٔ اهوِٖٚىٔ قَُٗزِآ اِهفَحِزٔ إٔ قُزِآ اِهفَحِزٔ
كَا ظًَِ دُٔ٘اّ
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh . Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS Al-israa [17] : 78)
Shalat yang dimaksud adalah shalat Fajar, yang dihadiri oleh malaikat malam dan malaikat siang. Mereka berkumpul untuk menyaksikan shalat Fajar bersama dengan kaum Muslimin dan mendengarkan Al-Qur’an yang dibaca dalam shalat. Mereka juga berkumpul pada waktu shalat Ashar, dan Allah bertanya kepada mereka, dan Allah lebih mengetahui: “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hambaku?” Para malaikat menjawab, “Kami datang kepada mereka ketika mereka sedang shalat dan kami meninggalkan mereka ketika mereka sedang shalat.” Ini berarti bahwa para malaikat turun ketika kita sedang shalat Ashar dan mereka menghadiri shalat bersama kita. Dan mereka kembali ketika kita shalat Fajar.

Oleh karena itu, telah ditetapkan bahwa Shalat Ashar adalah shalat Wustha (shalat pertengahan) sebagaimana yang difirmankan Allah:
حَافٔظُ اِ٘ عَوَٟ اهؼٖوَ اَ٘تٔ اٗهؼٖلاَٝٔ اِه سُِ٘طَٟ قَُٗ اًُِ٘٘ هوٓ قَأُتٔينَ
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” (QS Al-Baqarah [2] : 238), yakni Shalat Ashar karena shalat itulah yang dihadiri oleh malaikat malam dan malaikat siang.

Ajakan kepada orang-orang yang lalai

Di mana mereka yang meninggalkan shalat Fajar, tidur di atas tempat tidurnya dan tidak menyaksikan kejadian agung ini setiap malam dengan para malaikat Ar-Rahman? Para malaikat Ar-Rahman mengabarkan di Malaul A’la: “Kami datang kepada mereka ketika mereka sedang shalat dan meninggalkan mereka ketika mereka sedang shalat.”

Manfaat apa yang diperoleh orang ini yang melalaikan shalat Fajar dan memilih tidur? Dan manfaat apa yang diperoleh orang ini yang ketinggalan shalat Ashar karena malas, lebih memilih tidur atau melakukan hal lainnya?

Dikatakan dalam sebuah hadits:
مَ فَاَتتِ صَلاَ اِلعَضِسٔ فَلَأَىنََا تُّسَِ أ لٍَِ مََّال “Barangsiapa yang kehilangan shalat Ashar, seolah-olah dia kehilangan keluarganya dan hartanya.”
Dan dalam hadits lain dikatakan: "...sungguh telah batal amalnya”, yaitu dia melaksanakan shalat di luar waktunya. Maka jika dia mengerjakannya di luar waktunya maka dia telah melewatkan shalat tersebut.

Kedelapan: Ada juga malaikat yang melindungi manusia dari mara bahaya. Manusia cenderung untuk berjalan ke dalam bahaya setiap hari. Namun demikian Allah menugaskan para malaikatnya untuk menjaganya dari bahaya dalam kehidupan ini yang telah Allah tetapkan baginya. Dan bumi ini, yang dilalui manusia setiap hari mengandung banyak bahaya. Ada binatang buas, ular, kalajengking, belum lagi orang-orang jahat dari kalangan manusia – musuh dan orang-orang dzalim. Akan tetapi Allah telah menempatkan para malaikat ini di sekitar manusia. Allah berfirman:

ه عًَُقِبَاتْ بَِٚ ٙدََّٙ خَوِفٔ ٙحِفَظُ أَ زًِٔ اهوٕٓٔ
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah” (QS Ar-Ra’d [13] : 11)
Oleh karena itu, selama Allah telah menetapkan keselamatan dari bahaya, para malaikat ini akan melindungi dan menjaganya, dan tidak ada manusia yang dapat membahayakan dirinya. Namun jika Allah berkehendak mengakhiri ajalnya, Dia menarik malaikat para malaikat itu darinya – satu dari depannya dan satu dari belakangnya.

اهوٓ لاَ ٙػَِٚزُ اًَ بقَ حَتٖٟ ٙػَِٚزُ اِٗ اًَ بأَُِفُشٔ إَٗٔذَا أَرَادَ اهوٓ بقَ سُ ١٘اّ
فَلاَ زًََدٖ ه إًََٗ ه دُ إَٗي
“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’d *13+ : 11)

Jika ketetapan telah datang dan Allah berkehendak mengakhiri kehidupan seseorang, para malaikat yang senantiasa bersamanya menarik diri darinya karena mereka tidak menahan diri dari melaksanakan perintah Allah. Inilah para malaikat yang senantiasa mengelilingi seseorang.

Kesembilan: Ada juga malaikat yang bertugas di alam ini yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. Mereka adalah para malaikat yang ditugaskan di laut, pada siang hari. Ada malaikat yang bertugas mengirimkan angin, dan para malaikat yang mengerjakan berbagai tugas lainnya.
Semua yang terjadi di alam ini dan terus-menerus berlangsung di dalamnya setiap hari berdasarkan ketetapan Allah. Adapun malaikat, mereka mengerjakan tugas apapun yang diperintahkan Allah.
Kewajiban Iman kepada Malaikat dan Tugas-tugas Mereka
Di antara malaikat ada yang namanya disebutkan Allah bagi kita, seperti Jibril, Mikail, Israfil dan Malik malaikat penjaga Neraka. Allah berfirman:

ىَّاَدَ اِّ آَ مَاِلمُ ل قَِٔضٔ عََل ئَِا زَُبمَ قَالَ إىٔلَُه مَاكِجٌَُْ
“Mereka berseru: "Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja". Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)".” (QS Az-Zukhruf [43] : 77)
Dan ada pula malaikat yang tidak Allah sebutkan namanya kepada kita. Namun demikian, kita beriman kepada malaikat – baik yang namanya kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Dan kita beriman kepada tugas-tugas yang mereka laksanakan atas perintah Allah.

Arti Urgensi dan Pengertiannya


-URGENSI berasal dari bahasa latin [URGERE]-{KATA KERJA} yang berarti  mendorong
-dalam bahasa inggris[URGENT]-{KATA SIFAT}
-dalam bahasa indonesia [URGENSI]-{KATA BENDA}
-istilah urgensi  menunjuk pada sesuatu yang mendorong kita ,yang memaksa kita untuk di selesai kan…
Dengan demikianmengandaikan ada suatu masalahdan harus di tindak lanjuti.
“URGENSI” bisa berarti “penting nya
Misalnya ‘urgensi kepemimpinan muda ” itu lebih berarti ” pentingnya kepemimpinan muda “

urgensi...
berasal dari bahasa latin "urgere" (kata kerja) yang berarti mendorong...
dalam bahasa inggris "urgent" (kata sifat)
dalam bahasa indonesia "urgensi" (kata benda)

istilah urgensi menunjuk pada sesuatu yang mendorong kita, yang memaksa kita untuk diselesaikan..
dengan demikian mengandaikan ada suatu masalah dan harus segera ditindak lanjuti..

urgensi bisa juga berarti "pentingnya"...
misalnya "urgensi kepemimpinan muda".. itu lebih bearti "pentingnya kepemimpinan muda"

moga bisa membantu..
Teori-Teori Sistem Pengambilan Keputusan

Teori-Teori Sistem Pengambilan Keputusan

1.      Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning Theory)
Penganjur teori ini adalah ahli sosiologi organisasi Amitai Etzioni. Etzioni setuju terhadap kritik-kritik para teoritisi inkremental yang diarahkan pada teori rasional komprehensif, akan tetapi ia juga menunjukkan adanya beberapa kelemahan yang terdapat pada teori inkremental. Misalnya, keputusan-keputusan yang dibuat oleh pembuat keputusan penganut model inkremental akan lebih mewakili atau mencerminkan kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang kuat dan mapan serta kelompok-kelompok yang mampu mengorganisasikan kepentingannya dalam masyarakat, sementara itu kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang lemah dan yang secara politis tidak mampu mengorganisasikan kepentingannya praktis akan terabaikan.

Lebih lanjut dengan memusatkan perhatiannya pada kepentingan/tujuan jangka pendek dan hanya berusaha untuk memperhatikan variasi yang terbatas dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ada sekarang, maka model inkremental cenderung mengabaikan peluang bagi perlunya pembaruan sosial (social inovation) yang mendasar.

Oleh karena itu, menurut Yehezkel Dror (1968) gaya inkremental dalam pembuatan keputusan cenderung menghasilkan kelambanan dan terpeliharanya status quo, sehingga merintangi upaya menyempurnakan proses pembuatan keputusan itu sendiri. Bagi sarjana seperti Dror– yang pada dasamya merupakan salah seorang penganjur teori rasional yang terkemuka — model inkremental ini justru dianggapnya merupakan strategi yang tidak cocok untuk diterapkan di negara-negara sedang berkembang, sebab di negara-negara ini perubahan yang kecil-kecilan (inkremental) tidaklah memadai guna tercapainya hasil berupa perbaikan-perbaikan besar-besaran.

Model pengamatan terpadu juga memperhitungkan tingkat kemampuan para pembuat keputusan yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikatakan, bahwa semakin besar kemampuan para pembuat keputusan untuk memobilisasikan kekuasaannya guna mengimplementasikan keputusan-keputusan mereka, semakin besar keperluannya untuk melakukan scanning dan semakin menyeluruh scanning itu, semakin efektif pengambilan keputusan ‘tersebul Dengan demikian, moder pengamatan terpadu ini pada hakikatnya merupakan pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan model rasional komprehensif dan moder inkremental dalam proses pengambilan keputusan.



2.      Teori Rasional Komprehensif
Teori pengambilan keputusan yang paling dikenal dan mungkin pula yang banyak diterima oleh kalangan luas ialah teori rasional komprehensif. Unsur-unsur utama dari teori ini dapat dikemukakan sebagai berikut :

 Pembuat keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah-masalah yang dapat diperbandingkan satu sama lain.
Tujuan-tujuan, nilai-nilai, atau sasaran yang mempedomani pembuat keputusan amat jelas dan dapat ditetapkan rangkingnya sesuai dengan urutan kePentingannya

Berbagai altenatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama.
Akibat-akibat (biaya dan manfaat) yang ditmbulkan oleh setiap altenatif Yang diPilih diteliti.
Setiap alternatif dan masing-masing akibat yang menyertainya,
dapat diperbandingkan dengan alternatif-altenatif lainnya.
Pembuat keputusan akan memilih alternatif’ dan akibat-akibatnya’ yang dapat memaksimasi tercapainya tujuan, nilai atau Sasaran yang telah digariskan.

Teori rasional komprehensif banyak mendapatkan kritik dan kritik yang paling tajam berasal dari seorang ahli Ekonomi dan Matematika Charles Lindblom (1965 , 1964′ 1959)’ Lindblom secara tegas menyatakan bahwa para pembuat keputusan itu sebenarya tidaklah berhadapan dengan masalah-masalah yang konkrit dan terumuskan dengan jelas.

Lebih lanjut, pembuat keputusan kemungkinan juga sulit untuk memilah-milah secara tegas antara nilai-nilainya sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat. Asumsi penganjur model rasionar bahwa antara fakta-fakta dan nilai-nilai dapat dengan mudah dibedakan, bahkan dipisahkan, tidak pemah terbukti dalam kenyataan sehari-hari. Akhirnya, masih ada masalah’ yang disebut ,,sunk_cost,,. Keputusan_-keputusan, kesepakatan-kesepakatan dan investasi terdahulu dalam kebijaksanaan dan program-program yang ada sekarang kemungkinan akan mencegah pembuat keputusan untuk membuat keputusan yang berbeda sama sekali dari yang sudah ada.

Untuk konteks negara-negara sedang berkembang, menurut R’s. Milne (1972), model irasionar komprehensif ini jelas tidak akan muduh diterapkan. Sebabnya ialah: informasi/data statistik tidak memadai ; tidak memadainya perangkat teori yang siap pakai untuk kondisi- kondisi negara sedang berkembang ; ekologi budaya di mana sistem pembuatan keputusan itu beroperasi juga tidak mendukung birokrasi di negara sedang-berkembang umumnya dikenal amat lemah dan tidak sanggup memasok unsur-unsur rasionar dalam pengambilan keputusan.

3.      Teori Inkremental
Teori inkremental dalam pengambilan keputusan mencerminkan suatu teori pengambilan keputusan yang menghindari banyak masalah yang harus dipertimbangkan (seperti daram teori rasional komprehensif) dan, pada saat yang sama, merupakan teori yang lebih banyak menggambarkan cara yang ditempuh oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam mengambil kepurusan sehari-hari.
Pokok-pokok teori inkremental ini dapat diuraikan sebagai berikut:

Pemilihan tujuan atau sasaran dan analisis tindakan empiris yang diperlukan untuk mencapainya dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait daripada sebagai sesuatu hal yang saling terpisah.
 Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa altematif yang langsung berhubungan dengan pokok masalah dan altematif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara inkremental atau marginal bila dibandingkan dengan kebijaksanaan yang ada sekarang.

Bagi tiap altematif hanya sejumlah kecil akibat-akibat yang mendasar saja yang akan dievaluasi.
Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan didedifinisikan secara terarur. Pandangan inkrementalisme memberikan kemungkin untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan sarana serta sarana dan tujuan sehingga menjadikan dampak dari masalah itu lebih dapat ditanggulangi.
 Bahwa tidak ada keputusan atau cara pemecahan yang tepat bagi tiap masalah. Batu uji bagi keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa berbagai analisis pada akhirnya akan sepakat pada keputusan tertentu meskipun tanpa menyepakati bahwa keputusan itu adalah yang paling tepat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.

 Pembuatan keputusan yang inkremental pada hakikatnya bersifat perbaikan-perbaikan kecil dan hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki ketidaksempunaan dari upaya-upaya konkrit dalam mengatasi masalahsosial yang ada sekarang daripada sebagai upaya untuk menyodorkan tujuan-tujuan sosial yang sama sekali baru di masa yang akan datang.

Keputusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pada hakikatnya merupakan produk dari saling memberi dan menerima dan saling percaya di antara pelbagai pihak yang terlibat dalam proses keputusan tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya majemuk paham lnkremental ini secara politis lebih aman karena akan lebih gampang untuk mencapai kesepakatan apabila masalah-masalah yang diperdebatkan oleh berbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya untuk memodifikasi terhadap program-program yang sudah ada daripada jika hal tersebut menyangkut isu-isu kebijaksanaan mengenai perubahan-perubahan yang radikal yang memiliki sifat ” ambil semua atau tidak sama sekali.

Karena para pembuat keputusan itu berada dalam keadaan yang serba tidak pasti khususnya yang menyangkut akibat-akibat dari tindakan-tindakan mereka di masa datang, maka keputusan yang bersifat inkremental ini akan dapat mengurangi resiko dan biaya yang ditimbulkan oleh suasana ketidakpastian itu Paham inkremental ini juga cukup rcalistis karena ia menyadari bahwa para pembuat keputusan sebenamya kurang waktu, kurang pengalaman dan kurang sumber-sumber lain yang diperlukan untuk melakukan analisis yang komprehensif terhadap semua altematif untuk memecahkan masalah-masalah yang ada.
Kriteria Nilai-nilai Pengambilan Keputusan Dalam SPK

Kriteria Nilai-nilai Pengambilan Keputusan Dalam SPK

Kriteria pengambilan Keputusan
Menurut konsepsi Anderson, nilai-nilai yang kemungkinan menjadi pedoman perilaku para pembuat keputusan itu dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) kategori, yaitu:

1.      Nilai-nilai Politik
Pembuat keputusan mungkin melakukan penilaian atas altematif kebijaksanaan yang dipilihnya dari sudut pentingnya altematif-altematil itu bagi partai politiknya atau bagi kelompok-kelompok klien dari badan atau organisasi yang dipimpinnya. Keputusan-keputusan yang lahir dari tangan para pembuat keputusan seperti ini bukan mustahil dibuat demi keuntungan politik’ dan kebijaksanaan dengan demikian akan dilihat sebagai instrumen untuk memperluas pengaruh-pengaruh politik atau untuk mencapai tujuan dan kepentingan dari partai politik atau tujuan dari kelompok kepentingan yang bersangkutan.

2.      Nilai-nilai Kebijaksanaan
Dari perbincangan di atas, satu hal hendaklah dicamkan, yakni janganlah kita mempunyai anggapan yang sinis dan kemudian menarik kesimpulan bahwa para pengambil keputusan politik inr semata-mata hanyalah dipengaruhi oleh pertimbangan-penimbangan demi keuntungan politik, organisasi atau pribadi. Sebab, para pembuat keputusan mungkin pula bertindak berdasarkan atas penepsi mereka terhadap kepentingan umum atau keyakinan tertentu mengenai kebijaksanaan negara apa yang sekiranya secara moral tepat dan benar. Seorang wakil rakyat yang mempejuangkan undang-undang hak kebebasan sipil mungkin akan bertindak sejalan dengan itu karena ia yakin bahwa tindakan itulah yang secara moral benar, dan bahwa persamaan hak-hak sipil itu memang merupakan tujuan kebijaksanaan negara yang diinginkan, tanpa mempedulikan bahwa perjuangan itu mungkin akan menyebabkannya mengalami resiko-resiko politik yang fatal.

3.      Nilai-nilai organisasi
Para pembuat kepurusan, khususnya birokrat (sipil atau militer), mungkin dalam mengambil keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai organisasi di mana ia terlibat di dalamnya’ Organisasi, semisal badan-badan administrasi, menggunakan berbagai bentuk ganjaran dan sanksi dalam usahanya untuk memaksa para anggotanya menerima, dan bertindak sejalan dengan nilai-nilai yang telah digariskan oleh organisasi. Sepanjang nilai-nilai semacam itu ada, orang-orang yang bertindak selaku pengambil keputusan dalam organisasi itu kemungkinan akan dipedomani oleh pertimbangan-pertimbangan semacam itu sebagai perwujudan dari hasrat untuk melihat organisasinya tetap lestari, unuk tetap maju atau untuk memperlancar program-program dan kegiatan-kegiatannya atau atau untuk mempertahankan kekuasaan dan hak-hak istimewa yang selama ini dinikmati.

4.      Nilai-nilai Ideologis
Ideologi pada hakikatnya merupakan serangkaian nilai-nilai dan keyakinan yang secara logis saling berkaitan yang mencerminkan gambaran sederhana mengenai dunia serta berfungsi sebagai pedoman benindak bagi masyarakat yang meyakininya. Di berbagai negara sedang berkembang di kawasan Asia, Afrika dan Timur Tengah nasionalisme yang mencerminkan hasrat dari orang-orang atau bangsa yang bersangkutan untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri — telah memberikan peran penting dalam mewamai kebijaksanaan luar negeri maupun dalam negeri mereka. Pada masa gerakan nasional menuju kemerdekaan, nasionalisme telah berfungsi sebagai minyak bakar yang mengobarkan semangat perjuangan bangsa-bangsa di negara-negara sedang berkembang melawan kekuatan kolonial.
Di Indonesia, ideologi Pancasila setidaknya bila dilihat dari sudut perilaku politik regim, telah berfungsi sebagai resep untuk melaksanakan perubahan sosial dan ekonomi. Bahkan ideologi ini kerapkali juga dipergunakan sebagai instrumen pengukur legitimasi bagi partisipasi politik atau partisipasi dalam kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat (Abdul Wahab, Solichin, 1987).

5.      Nilai-nitai Pribadi
Hasrat untuk melindungi atau memenuhi kesejateraan atau kebutuhan fisik atau kebutuhan finansial’ reputasi diri, atau posisi historis kemungkinan juga digunakan- oleh para pembuat teputusan sebagai kriteria dalam pengambilan keputusan.
Para politisi yang menerima uang sogok untuk membuat kepurusan tertentu yang menguntungkan si pemberi uang sogok, misalnya sebagai hadiah pemberian perizinan atau penandatanganan kontrak pembangunan proyek tertentu, jelas mempunyai kepentingan pribadi dalam benaknya. Seorang presiden yang mengatakan di depan para wartawan bahwa ia akan menggebut siapa saja yang bertindak inkonstirusional, jelas juga dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan pribadinya’misalnya agar ia mendapat tempat terhormat dalam sejarah bangsa sebagai seseorang yang konsisten dan nasionalis.
Tugas Sistem Pengambilan Keputusan Program Linear Maksimasi

Tugas Sistem Pengambilan Keputusan Program Linear Maksimasi

Sebuah Perusahaan akan memproduksi 2 jenis prouduk yaitu lemari dan kursi. untuk memproduksi 2 produk tersebut dibutuhkan 2 kegiatan yaitu proses perakitan dan pengecatan. perusahaan menyediakan waktu 56 jam untuk proses perakitan dan 60 jam untuk proses pengecatan. untuk memproduksi 1 unit lemari diperlukan waktu 8 jam perakitan dan 5 jam pengecatan. utnuk produksi 1 unit kursi diperlukan 7 jam perakitan dan 12 jam pengecatan. jika masing-masing harga produk adalah Rp.200.000 untuk lemari dan Rp.100.000 untuk kursi. tentukan solusi optimal agar mendapatkan untung maksimal ?
a.     Fungsi Kendala
x = lemari
y = kursi
ProdukWaktu PerakitanWaktu PengecatanHarga/unit
Lemari (x)8 jam5 jam200
Kursi (y)7 jam12 jam100
Waktu yang tersedia56 jam60 jam-
Fungsi Tujuan
Z = 100x + 200y
Fungsi kendala
(i)                  8x +7y=56
(ii)                5x+12y=60
b.    Menetukan Koordinat
Persamaan (i)
Jika x=0                                                                                       jika y=0
8x+7y=56                                                                                   8x+7y=56
8(0)+7y=56                                                                                8x+7(0)=56
7y=56                                                                                           8x=56
y=56/7                                                                                           x=56/8
y=8                                                                                                 x=7
{0,8} dan {7,0}
Persamaan (ii)
Jika x=0                                                                                       jikay=(0)
5x+12y=60                                                                                 5x+12y=60
5(0)+12y=60                                                                              5x+12(0)=60
12y=60                                                                                        5y=60
y=60/12                                                                                        y=60/5
y=5                                                                                                 y=12
{0,5} dan {12,0}
c.     Grafik
diagram
d.     Menyelesaikan permasalahan dengan eliminasi
7
5x+12y=60
5x+12(3,3)=60
5x+39,6=60
5x=60 – 39
5x=20,4
x=20,45/5
x=4,08
e.    penetuan solusi
untuk koordinat (0,5)                                      untuk koordinat (7,0)
Z = 100x + 200y                                                Z = 100x + 200y
= 100(0) + 200 (5)                                           = 100(7) + 200 (0)
= 0 + 1000                                                         = 700 + 0
= 1000                                                                = 700
untuk (4,08 ; 3,3)
Z = 100x + 200y
= 100(4,08) + 200(3,3)
= 408 + 660
= 1068